Selasa, 26 Maret 2024

TIDAK MAU KALAH

TIDAK MAU KALAH

Oleh   : Prayit hariyanto

       Sebenarnya rasa bersalah itu lebih penting daripada kesalahan itu sendiri. Pun demikian Rasa berdosa, lebih penting dari Dosa itu sendiri. Keduanya memberi kesadaran bahwa kita memang tempat salah dan Dosa. 
Kedua rasa ini pulalah yang menjadikan kita tetap se-wajarnya manusia. Serasa tidak manusiawi jika kita merasa diri benar dan suci bahkan paling benar dan paling suci dari yang lain.

       Rasa bersalah dan berdosa inilah seharusnya membawa kita sebagai manusia pada mawas diri, namun terkadang kita sering gagal mengatasi diri kita sendiri. Narasi ini tidak berlaku bagi mereka yang terlanjur terjun didunia Politik, mereka-mereka tidak mengenal istilah Salah yang ada selalu “ BENAR “, Tidak mengenal “ KALAH “ yang ada dalam benaknya hanya “ MENANG “ kalau-pun papan skor penampakan-nya jelas. Baginya kekalahan harus diperjuangkan agar tetap “ EXIST “. Tren saat ini muncul istilah Curang, Politik Dinasty, anak haram konstitusi, Samsul, Blimbing Sayur, sampai dengan mem-fram sedemikian rupa agar HAK ANGKET – pun  bergulir Kira-kira demikian mereka men- Dalilkan-nya.

       Bukan memperjuangkan Kemenangan namun memantapkan Kekalahan, Kelompoknya kecil namun suaranya lengking dan nyaring namun tidak berirama, tidak enak didengar oleh “ LIYAN “ atau orang lain selain komunitasnya. Kalau yang lampau ada Jonru Ginting, Saracen, Obor Rakyat, MCA . . . Kontestasi kali ini memang tidak nampak, namun embrionya tetap eksis dan berkembang dengan Kamuflase-nya . . . . , mereka selalu muncul dan berkembang subur di siaran-siaran televisi, media-media ekstreeem, media sosial, Podcast-poscast, sengaja tidak memberikan gambaran  karena sebagian embrionya masih dalam eraman. Ia akan muncul jika situasi menguntungkan.

       Memang tiada yang dilahirkan sebagai pembenci, tapi jika “ GAGAL “ dengan kebencian, nafsu bisa bersekutu meruntuhkan ke-iman-an seseorang tanpa melihat predikat yang melekat pada dirinya, sesungguhnya mereka-mereka adalah orang yang matang, matang ilmu pengetahuannya, matang kehidupan sosialnya dan sangat sekali matang dalam menjalankan “ KEYAKINAN “-nya. Seharusnya mereka memiliki kesadaran yang tinggi, jika Agama adalah kebenaran tak berarti boleh seenaknya menilai orang lain buruk dan terkutuk, jika Agama adalah kelembutan maka merupakan keharusan untuk berhenti berbuat kekerasan.

       Percayalah jika tutur kata melembut dan nanar mata meredup, tak menghujam ketika berucap, pun tak akan menusuk ketika menatap, Ia lah yang rendah hati. Dan ia lah benih terbaik dari akhlaq yang mulia itu. Orang seperti ini selalu memenangkan simpati masyarakat, tahan disegala medan, tidak kalah penting ia selalu bersandar kepada robnya dan yakin bahwa Do’a-do’anya selalu diijabahi oleh-Nya, Allah Swt. .  . 

Salam sehat dan salam damai, . . . phsl

#damaiituindah

Jumat, 08 Maret 2024

QONA'AH

QONA'AH

Oleh  : Prayit Hariyanto

Hampir setiap hari kita bisa saksikan pendapat para peserta kontestan Pilpres berulang-ulang keluar di media televisi, hampir juga setiap hari perdebatan mereka2 para konstituen juga kita bisa saksikan di televisi, bahkan hampir saling " TONJOK ", . . . sudahlah ini Kontestasi pasti ada yang beruntung dan ada yang belum beruntung, . . .  . Jika belum beruntung saya kira masih ada waktu untuk berkompetisi kembali di 2029,

Jujur saja sesungguhnya semua tahapan sudah masing-masing kantestan lakukan dengan cara-cara mereka, . . . cara Kampanye, cara Berdebat dan cara Berdo'a, . . . tulisan saya terdahulu (Masa tenang waktu Munajad Kandidat)
yaach namanya pertandingan kalau tidak kalah yaa menang . . .,

Konstituen dan netizennya-pun ikut2an meramaikan di Medsos dengan status yang isinya belum tentu benar,  . . . Sudah-lah pemilu udah " USAI ", mari kembali ke pekerjaan masing-masing, tata kehidupan kembali seperti sedia kala . . . dan anggap saja ber-Politik itu adalah hiburan, ibarat nonton Piala dunia/ Liga, Volley, Tinju, Bulu tangkis dll, . . . . .
bukankah kita didalam agama diajarkan untuk " QONA'AH ", mungkin akan jauh lebih baik dari pada keluh dan kesah, . . . . Rasa syukur dan sabar akan menjauhkan diri dari sifat Iri, syirik, dengki, Angkuh, Sombong dan songong.

Yang menjadi pertanyaan, . . .

Adakah " QONA'AH " ini tertanam dalam Jiwa-jiwa yang sedang berkompetisi di kontestasi Politik sekarang ini . . . . ?????,

Wallahu a'lam bishawab . . .

#damaiituindah
#phsl