Sabtu, 25 April 2020

RUMAH-KU ADALAH IDAMAN-KU because (Stay At Home)

Oleh: Prayit Hariyanto, SH.
(Kanit 2 Cyber Crime, Krimsus Polda NTB)

RUMAH-KU ADALAH IDAMAN-KU
                     because
              (Stay At Home)

Kami dan keluarga kecil kami tinggal disebuah kampung di pinggiran kota selong tepatnya di Kp. Bahrah. Kampung nan Asri berpenghuni 11 KK inilah, kami membangun Rumah tinggal yang kami bangun tahun 2000 dan kami tempati pada tahun 2004 Rumah berukuran 12x13 terdapat satu Ruang Tamu, tiga kamar Tidur, satu Garasi, dua dapur, satu Ruang makan, tiga kamar mandi, satu gudang, 2 kamar khusus sengaja kami buat untuk Istri, jika mungkin ada pasien yang mau berobat atau melahirkan dan Ruang keluarga 5x7 cukup untuk menampung keluarga besar kami jika ada pertemuan-pertemuan.
Berdiri diatas lahan seluas 9,25 Are atau 9250 m2 dengan berbagai jenis pohon buah sebagai pelindung mulai dari Pohon mangga (Madu, Apel, Podang, Golek, Parkit, hercules, Arum manis), Alpokat, Salak, Nangka, Cempedak, Manggis, Durian, Kepel, Rambutan, Naga, Blimbing, Matoa dan Jambu Batu menambah ke-asri-an tempat tinggal kami bersama keluarga.

Untuk Konsumtif sendiri sesekali kami memanfaatkan waktu untuk memancing Ikan mujair, Lele dan atau Bawal dikolam ikan yang kami buat, diatasnya berdiri Brugak enam tiang cukup untuk menampung 20 an orang, kami lengkapi dengan TV 32 Inci semi datar Toshiba Tabung tempo dulu, ramai bila ada perhelatan Liga Champion Piala Dunia dan Liga Asia AFF atau AFC. Jika suasana sepi kami masih mendengar gemericik air sungai dibelakang tempat tinggal kami yang memang langsung berbatasan dengan sungai. Sesekali memberi makan dan bermain-main dengan Ikan Lele yang ada dikolam samping rumah kami karena jinaknya.

Ruang yang kami sebutkan terakhir adalah Ruang keluarga. Ruang paling luas di rumah kami, kami biasanya menggunakan ruang keluarga ini untuk berkumpul sambil menonton televisi, menikmati hiburan menonton Film dari film anak-anak sampai film Dewasa, film Humor sampai film Horor, Film Drama Korea sampai film Detektif,  Action dll.

Sesekali jika penat dengan pekerjaan, kami ber-karaoke atau bernyanyi dengan alat musik seadanya, ada Elektone, Gitar dan Biola dengang sound system Aktif double Huper. Kami merubahnya menjadi Room dengan fasilitas televisi 53 inci, jadi ketika kami duduk bersama di depannya, kami bisa melihat film dengan jelas. Selanjutnya, kami biasanya mematikan lampu pada saat kami ingin menonton film horor serasa seperti menonton di bioskop sesungguhnya.

Diruang keluarga ini terdapat dua buah Bufet barang pecah belah, dua lemari transparan untuk menyimpan koleksi Ribuan Kaset VCD/DVD dan Ratusan Vidio cassette (Vidio Bata VHS) tempo dulu, satu bufet lagi untuk " Library without License " berisi buku per-undang undangan, ada koleksi majalah Dwi Mingguan Tempo, Gatra dan Forum keadilan, bacaan ringan karya Emha Ainun Najib, Candra Malik, Tere Liye, Yara Sumadi, Jhon Man, Muthia Sayekti, James Altucker, Marylin Pincus, Yanuardi Syukur, DR. Abdul Wahid Hasan, Abraham Panumbangan, Abdullah Ubaid, Puthut EA, dll. Dua buku yang sering kami baca " Muslim Pentol Korek karya Tere Liye dan Enaknya Berdebat dengan Orang Goblok karya Puthut EA ". Ruang keluarga ini juga kami gunakan melakukan banyak pekerjaan, baik menulis maupun pekerjaan Kantor. Di ruangan ini, ada komputer lama Pantium satu sudah tidak terpakai karena sudah ketinggalan zaman, semua pekerjaan sudah menggunakan Laptop masing-masing dikeluarga kami.

Itulah rumah sederhana yang kami miliki dan cintai, baru kami sadari ke-asrian-nya berkat adanya Social Distancing, Phisical Distancing, Stay At Home, Akibat mewabahnya “ COVID-19 “. Rupanya “ Rumah-ku adalah Idaman-ku “ memang benar adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar