Minggu, 20 September 2020

MENGUKUR REZEKI DIRI

Oleh : Prayit Hariyanto, SH, Kanit 2 Subdit Cyber Polda ntb

MENGUKUR REZEKI DIRI 

Sebaiknya menepi sejenak, mengalah-lah,  karena mengalah jauh lebih baik dan terhormat daripada satu jalur tidak se-keingin-an walau satu tujuan.

Profesionalisme dituntut agar tujuan tercapai tanpa harus meng-korban-kan yang lainnya. Pangkat, jabatan dan kewenangan hanya sementara, urusan “ Rezeki “ Tidak perlu dirisaukan sudah diatur-Nya jangan takut tidak kebagian. Walau rezeki bukan berupa “ Uang “, kenyataanya uang lebih dibutuhkan dalam hidup, hanya sedikit orang yang tidak membutuhkan uang dalam hidupnya. 

Cuman jangan terlalu “ Ngoyo “ pada akhirnya tidak bisa membedakan mana yang HAQ dan BATHIL, jangan menuruti bathin yang diselimuti kabut. Karenanya bisa meng-hilang-kan asa dan rasa, ia buta hanya bisa  merasa tidak bisa melihat yang lainnya. Padahal hidup ini tidak sendiri, ada orang-orang disekitar untuk berkaca agar segera bercermin perbaiki “ Diri “ jika sedikit agak keliru.

Rezeki itu bukan besarannya, bukan pula banyaknya. berapa-pun besar dan kecilnya Rezeki itu terpenting tergantung bagaimana cara memperolehnya, jika baik maka disitu baru dikatakan bahwa Rezeki akan tepat berada di orang yang tepat. Maka Rezeki itu hakekatnya akan “ BERKAH “ bagi semua kita. Jangan khawatir atas rezeki kita, karena “ Bumi mampu mencukupi semua kebutuhan seluruh manusia, tetapi tidak mampu mencukupi ke- “ RAKUS “ an  seorang manusia “. (Mahatma gandhi)

Seberapa besar-kah Rezeki Kita hari ini ????? . . . . . Sssst

Ke “ SEHAT “ an dan menyempatkan membaca tulisan saya ini adalah rezeki yang berharga di pagi ini, . . . sambil menikmati “ Kopi “ pagi, . . .  (Phsl)

Prayit H, SH

JANGAN-JANGAN . . .

Oleh : Prayit Hariyanto, SH, Kanit 2 Subdit Cyber Polda Ntb

JANGAN-HANGAN . . . .

Mutiara hidup merupakan sebuah renungan untuk senantiasa berfikir positif atau "  Positive Thinking  ". Pemikiran inilah yang akan membimbing Kita untuk melakukan berbagai hal tanpa ada rasa takut dan keraguan, baik dalam mengambil langkah maupun mengambil keputusan. 

One Positive Thinking dari pagi hari akan membawa dampak baik sepanjang hari itu, boleh percaya dan boleh juga tidak, . . . !!!
Pemikiran positif akan mampu membangun persepsi yang baik dalam setiap tindakan yang dilakukan.
Bisa dibayangkan jika setiap saat, setiap waktu Kita selalu diselimuti dengan perasaan dan pemikiran yang Negatif, . . . Jangan-jangan besok kita dimarah Pimpinan ditempat kerja, jangan-jangan besok ada Debt collector, Jangan-jangan ada WIL ditempat kerja, Handphone berdering takut dibuka karena “ Jangan-jangan “. . . . . dll.

Mindset “ Jangan-jangan “ inilah yang menghambat segalanya, tentu akan ada banyak hal yang terbengkalai, mulai dari hal kecil sampai hal Besar, pada akhirnya akan berdampak buruk pada pencapaian dan keberhasilan yang harusnya bisa kita dapatkan.

Mari kita merubah Mindset kita untuk tidak berfikir Negative “ JANGAN-JANGAN “, . . . . . . . . karena itu juga berpengaruh kepada rezeki yang kita dapatkan pada hari itu, jika diremehkan, ia juga berpengaruh kepada Ke-sehat-an kita.

Tetap jalin komunikasi, silaturahmi diantara sesama, karena Do'a mereka turut andil dalam menentukan Rezeki, Kesehatan dan kesuksesan Kita,  . . . Aamiin, maaf ini juga tidak bisa di enteng-kan. 
Mari nyruput kopi dulu sebelum beraktivitas. . .. . . (Phsl)

Prayit H, SH

Selasa, 01 September 2020

CATATAN AGUSTUS 2020 TENTANG NASIONALISME

Oleh : Prayit Hariyanto, SH, Kanit 2 Subdit Cyber Crim Polda Ntb

CATATAN AGUSTUS 2020 TENTANG NASIONALISME

Sampai hari ini, detik ini kita merasakan bahwa Bangsa Indonesia telah merdeka seutuhnya, merdeka dari “ Penjajahan “  walau belum seutuhnya hasil dari kemerdekaaan bisa penuh kita nikmati, kurun “ 75 “ tahun usia kemerdekaan itu, Setidaknya kita telah menikmati Kemerdekaan itu dengan merdekanya kita menjalankan aktivitas sehari-hari untuk  pergi bekerja, berladang, bertani, berkebun, dan aktivitas-aktivitas lain tanpa terganggu dan was-was dari gangguan orang lain atau kaum Penjajah.

Berkaitan dengan Narasi tersebut, apakah Nasionalisme masih tertanam dalam diri kita warga Negara Indonesia kurun “ 75 “ tahun usia kemerdekaan RI ??? . . . . . . . . . . (hanya diri sendiri yang tahu seberapa Kadar cinta kita kepada Bangsa dan Negara) 

Karena nampak bahwa banyak warga Bangsa yang mulai tidak menyadari betapa pentingnya arti Nasionalisme itu, Rasa Cinta Tanah Air tidak harus turut dalam pertempuran, mengangkat senjata melawan musuh Negara sebagaimana telah dilakukan oleh Pendiri Bangsa ini atau dengan masuk menjadi Anggota POLRI/TNI yang bertugas melindungi Negara atau sekedar ikut Upacara 17 Agustus-an.

Akan tetapi rasa Nasionalisme bisa diwujudkan dalam wujud yang sangat sederhana sebagai rasa Cinta kita kepada Bangsa dan Negara. Salah satunya adalah dengan menjaga “ Fasilitas Umum “, bagi mereka yang gemar melakukan perusakan fasilitas umum mereka tidak menyadari bahwa mereka telah mengganggu hak warga lain. Jika fasilitas umum yang disediakan oleh Negara saja dirusak, bagaimana bisa melindungi bangsa dan Negara-nya . . . ???

Halnya, selama bulan “ Agustus “, 2020 tidak nampak bendera Merah putih secara meriah dikibarkan disetiap rumah-rumah penduduk, tidak terlalu nampak pada kendaraan, baik kendaraan Umum, Penumpang dan bahkan kendaraan Dinas yang meng-ikat-kan bendera Merah Putih dikaca Spion-nya, padahal sudah ada himbauan, kalau-pun tidak ada himbauan seharusnya tumbuh dari diri sendiri jiwa Nasionlisme itu mengingat “ 75 “ tahun usia kemerdekaan Bangsa ini.

Hilangnya kesadaran Nasionalisme dalam jiwa terutama kepada generasi penerus Bangsa adalah tanggung jawab kita bersama. Kesadaran Nasionalisme, Rasa Cinta Tanah Air harus ditanamkan dari lingkungan yang paling kecil yaitu “ KELUARGA “ tidak sedikit anak-anak kita tidak mengenal tokoh Bangsanya bahkan jauh lebih mengenal tokoh fiktif Batman, Spiderman, Hi Man, Megaloman dll . ., mungkin tidak heran jika dasar Negara Indonesia-pun tidak mengetahui. Padahal kalau mengingat sejarah berapa lama waktu dibutuhkan bangsa ini untuk mencapai Proklamasi Kemerdekaan, bagaimana susahnya mengibarkan Bendera Merah putih, begitu berkibar “ NYAWA “ bergelimpangan, wajar jika Founding Father kita Bapak Ir. Soekarno mengatakan “ JASMERAH “ (Jangan sekali-kali melupakan Sejarah), karena Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang mengingat Sejarahnya.

Yang jelas bahwa Nasionalisme bukan “ Nyinyir “ dalam kata, Nasionalisme tetap harus ditanamkan pada diri sendiri. Bukan berapa banyaknya lagu-lagu nasional dihafal, bukan pula berapa banyak tempat bersejarah dikunjungi. Nasionalisme adalah tentang seberapa banyak pengorbanan untuk Bangsa dan Negaranya. Jika hal kecil saja tidak bisa dilaksanakan ( memasang bendera Merah Putih depan rumah, meng-ikat Bendera Merah Putih difasilitas Kendaraannya ) apalagi mau berkorban untuk Negaranya.

“ Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan untuk negaramu “ ( John F Kennedy )

Mari pupuk rasa cinta kepada Bangsa dan Negara dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, dan jangan besarkan “ BANGSA “ lain dalam Negara sendiri, Merdeka . . . .   Phsl