MENGUKUR REZEKI DIRI
Sebaiknya menepi sejenak, mengalah-lah, karena mengalah jauh lebih baik dan terhormat daripada satu jalur tidak se-keingin-an walau satu tujuan.
Profesionalisme dituntut agar tujuan tercapai tanpa harus meng-korban-kan yang lainnya. Pangkat, jabatan dan kewenangan hanya sementara, urusan “ Rezeki “ Tidak perlu dirisaukan sudah diatur-Nya jangan takut tidak kebagian. Walau rezeki bukan berupa “ Uang “, kenyataanya uang lebih dibutuhkan dalam hidup, hanya sedikit orang yang tidak membutuhkan uang dalam hidupnya.
Cuman jangan terlalu “ Ngoyo “ pada akhirnya tidak bisa membedakan mana yang HAQ dan BATHIL, jangan menuruti bathin yang diselimuti kabut. Karenanya bisa meng-hilang-kan asa dan rasa, ia buta hanya bisa merasa tidak bisa melihat yang lainnya. Padahal hidup ini tidak sendiri, ada orang-orang disekitar untuk berkaca agar segera bercermin perbaiki “ Diri “ jika sedikit agak keliru.
Rezeki itu bukan besarannya, bukan pula banyaknya. berapa-pun besar dan kecilnya Rezeki itu terpenting tergantung bagaimana cara memperolehnya, jika baik maka disitu baru dikatakan bahwa Rezeki akan tepat berada di orang yang tepat. Maka Rezeki itu hakekatnya akan “ BERKAH “ bagi semua kita. Jangan khawatir atas rezeki kita, karena “ Bumi mampu mencukupi semua kebutuhan seluruh manusia, tetapi tidak mampu mencukupi ke- “ RAKUS “ an seorang manusia “. (Mahatma gandhi)
Seberapa besar-kah Rezeki Kita hari ini ????? . . . . . Sssst
Ke “ SEHAT “ an dan menyempatkan membaca tulisan saya ini adalah rezeki yang berharga di pagi ini, . . . sambil menikmati “ Kopi “ pagi, . . . (Phsl)
Prayit H, SH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar