BANGSA BESAR & SAMPAH
Oleh
: Prayit Hariyanto
Jika ingin menjadi
Bangsa besar maka hargai para Pahlawan
dan para Pemimpin Bangsa ini. Percayalah, tidak ada pemimpin bangsa ini yang
tidak baik, semuanya baik, beliau-beliau itu peletak pondasi Bangsa hingga
berdiri sampai sekarang ini, Ir. Soekarno, Soeharto, Prof. DR BJ. Habibie, KH
Abdurrahman Wahid, Megawati SP, SBY, Ir. Joko Widodo. Siapa lagi kalau bukan
kita yang menghargai dan menghormatinya.
Miris melihat tayangan di
Televisi selalu menyuguhkan perdebatan yang tidak ada ujung dan pangkalnya, selesai
tanpa solusi, Para Politisinya sibuk
berkelahi memperebutkan kursi pemimpin partainya, Para anggota Dewan terhormat
lupa akan fungsi pokoknya " Pengawasan, Legeslasi dan Anggaran ",
mana rasa nasionalisme Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat dengan suara
lantangnya memprovokasi Rakyat atau Masyarakat untuk menciptakan kebencian-kebencian terhadap para
pemimpin Bangsanya sendiri, Banyak sahabat Sosmed yang bisanya hanya meng
Share, meng upload, membagikan tautan Basi atau warta abal-abal alias "
HOAK " tanpa merasa bersalah, Sangat mudah meminta “ Maaf “, berurai air
mata ketika aparat menjemputnya, tidak bermental sama sekali . . . .
Memang harus disadari, bangsa
besar ini belum bisa mencetak generasi bangsa yang mampu bekerja, berkarya dan
berinovasi terhadap Bangsanya sendiri, Bangsa ini hanya mampu mencetak generasi
Bangsa yang pandai berbicara, ngomong, ngoceh tapi tidak mampu bekerja,
kerjanya selalu menyalahkan orang lain, menyalahkan pemimpin-pemimpin bangsanya
seolah dirinya paling hebat dan paling benar sendiri, padahal ketika ada
kesempatan untuk berbuat . . . malah
jauh lebih buruk dari pendahulunya .. . .
Melihat situasi dan kondisi
seperti ini sebagai Pemimpin Bangsa besar harus mampu membaca peluang pasar jika
mengacu pada hukum Ekonomi. Negara sebaiknya beralih menjadi
produsen tempat “ SAMPAH “ dan memperbesar TPA daripada menjadi
Produsen ALUTSISTA, Produsen tempat Sampah sungguh menjanjikan karenanya mampu menampung mereka-mereka yang pandai
berbicara, pandai berdebat seperti dagang obat, ocehannya bak “ BEO “ kelaparan. Mereka-mereka itu jauh
kebih berbahaya karena merongrong kewibawaan Bangsa dan Negaranya sendiri dari
pada ancaman dari luar. Mereka-mereka inilah bagian dari sampah yang harus disisir dan sapu agar tempat
itu tetap terlihat bersih dan indah, kumpulkan jadi satu kemudian Sortir yang tidak
bisa didaur Ulang buang ke TPA dan bakar agar tidak banyak menghabiskan Energi yang
tidak bermanfaat bagi kemajuan bangsa besar ini, sampah itu “ BAU “. Phsl