Kamis, 06 Juli 2023

BANGSA BESAR & SAMPAH

BANGSA BESAR & SAMPAH

Oleh  : Prayit Hariyanto

 

Jika ingin menjadi Bangsa  besar maka hargai para Pahlawan dan para Pemimpin Bangsa ini. Percayalah, tidak ada pemimpin bangsa ini yang tidak baik, semuanya baik, beliau-beliau itu peletak pondasi Bangsa hingga berdiri sampai sekarang ini, Ir. Soekarno, Soeharto, Prof. DR BJ. Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati SP, SBY, Ir. Joko Widodo. Siapa lagi kalau bukan kita yang menghargai dan menghormatinya.

 

Miris melihat tayangan di Televisi selalu menyuguhkan perdebatan yang tidak ada ujung dan pangkalnya, selesai tanpa solusi, Para Politisinya  sibuk berkelahi memperebutkan kursi pemimpin partainya, Para anggota Dewan terhormat lupa akan fungsi pokoknya " Pengawasan, Legeslasi dan Anggaran ", mana rasa nasionalisme Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat dengan suara lantangnya memprovokasi Rakyat atau Masyarakat untuk  menciptakan kebencian-kebencian terhadap para pemimpin Bangsanya sendiri, Banyak sahabat Sosmed yang bisanya hanya meng Share, meng upload, membagikan tautan Basi atau warta abal-abal alias " HOAK " tanpa merasa bersalah, Sangat mudah meminta “ Maaf “, berurai air mata ketika aparat menjemputnya, tidak bermental sama sekali . . . .  

 

Memang harus disadari, bangsa besar ini belum bisa mencetak generasi bangsa yang mampu bekerja, berkarya dan berinovasi terhadap Bangsanya sendiri, Bangsa ini hanya mampu mencetak generasi Bangsa yang pandai berbicara, ngomong, ngoceh tapi tidak mampu bekerja, kerjanya selalu menyalahkan orang lain, menyalahkan pemimpin-pemimpin bangsanya seolah dirinya paling hebat dan paling benar sendiri, padahal ketika ada kesempatan untuk berbuat . . .  malah jauh lebih buruk dari pendahulunya .. . .

 

Melihat situasi dan kondisi seperti ini sebagai Pemimpin Bangsa besar harus mampu membaca peluang pasar jika mengacu pada hukum Ekonomi. Negara  sebaiknya beralih   menjadi produsen tempat  “ SAMPAH  “ dan memperbesar TPA daripada menjadi Produsen ALUTSISTA, Produsen tempat Sampah sungguh menjanjikan karenanya  mampu menampung mereka-mereka yang pandai berbicara, pandai berdebat seperti dagang obat, ocehannya bak  “ BEO “ kelaparan. Mereka-mereka itu jauh kebih berbahaya karena merongrong kewibawaan Bangsa dan Negaranya sendiri dari pada ancaman dari luar. Mereka-mereka inilah bagian dari  sampah yang harus disisir dan sapu agar tempat itu tetap terlihat bersih dan indah,  kumpulkan jadi satu kemudian Sortir yang tidak bisa didaur Ulang buang ke TPA dan bakar  agar tidak banyak menghabiskan Energi yang tidak bermanfaat bagi kemajuan bangsa besar ini, sampah itu “ BAU “.  Phsl 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar