JANGAN REDUP-KAN CAHAYA ORANG LAIN
Oleh : Prayit Hariyanto, SH
Setiap gerak seorang Politisi dan Aktivis harus lebih mengedepankan prinsip mengukur potensi diri bukan semata-mata keinginan untuk memunculkan dirinya ke depan public, bukan pula hanya sekedar untuk kepentingan “ CONTEN “ tapi harus memperhatikan etika, estetika, toto kromo dan Adab.
Musyawarah adalah pangkal tolak gerakan untuk mengukur potensi SDM yang dimiliki. Kesadaran untuk meng-akomodir permasalahan kemudian bermusyawarah lebih utama dibandingkan sekedar meletupkan semangat untuk bergerak, bergerak dan bergerak hanya menyalahkan yang lain. Memberikan gelar Pimpinan Bangsanya tidak manusiawi, memberikan nilai kinerja seorang pejabat tanpa Etik dan Adab, sementara politisi muda ikut-ikutan, pun melihat seniornya telah mengajarkannya, sepertinya dunia per " POLITIK " kan tidak mengajarkan etik, estetika dan Adab kalau tidak berkaca dan bercermin pada diri sendiri. . . . Saya berpendapat sebaiknya : jika ingin bercahaya, . . . .
“ Bercahaya-lah kalian dari diri sendiri jangan redupkan Cahaya orang lain “. Phsl
Maka peluang munculnya friksi atau perbedaan akan terjadi jika para Politisi dan Aktivisnya yang membawa pesan kebanyakan orang-orang pembawa semangat semu dan punya kepentingan-kepentingan tertentu.
Akhirnya terjadi banyak fase yang terlewatkan dikarenakan semangat yang sangat dan amat bergelora sehingga memanaskan suasana yang mempengaruhi situasi Kamtibmas dan berdampak pada dunia usaha dan investasi, sementara secara riil ke-pahaman dan ke-sadaran dalam hati tidak bisa dipaksakan.
Hasilnya hanya " Pepesan tak Berisi " alias Pepesan kosong.
Saat ini adalah tahun Politik sekaligus tahun berinovasi untuk menciptakan peluang kerja baru bukan menggantungkan pada peluang kerja yang sudah sempit, bukan bergantung banyaknya bicara para pengamat seolah dunia mau kiamat, bukan bergantung banyaknya ocehan para politisi dan Aktivis yang meng-atasnama-kan Rakyat sementara Rakyat masih tetap biasa-biasa dan baik-baik saja, bukan lengkingan Birokrasi yang saling salahkan yang memunculkan kegaduhan, bukan juga koornya Bapak-bapak Dewan terhormat yang hanya menengok Rakyatnya ketika membutuhkan suaranya, “ LAMIS “ nya bibir para Politisi dalam mem-framing perdebatan calon Presiden dan wakil Presiden Ditambah dengan kompor gasnya Media lengkap sudah penderitaan Bangsa dan rakyat ini.
Sesungguhnya tidak banyak yang dituntut oleh Rakyat Bangsa ini, jangan jual dirinya hanya untuk kepentingan Selebrita dan propaganda-propaganda politik demi kepentingan tertentu, mereka lebih Ikhlas menghadapi tantangan dan beratnya kehidupan dan masa depannya dengan sabar.
Sederhana yang mereka inginkan kapan sembilan bahan pokok bisa terjangkau dan murah, jikapun tidak mereka-mereka jauh lebih tabah menghadapi-nya.
Salam sehat dan salam logika. Phsl
Tidak ada komentar:
Posting Komentar