Jumat, 26 September 2025

PLURALISME dan POLITIK

PLURALISME DAN POLITIK
Oleh : Prayit Hariyanto 
medio 26/9/2016 


Pluralisme mengandung banyak pengertian-pengertian jika dikaitkan dengan Pluralisme agama adalah merupakan konsep yang mempunyai makna sangat  luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama atau keyakinan yang berbeda-beda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula:

Sebagai pandangan global yang menyatakan bahwa agama atau keyakinan  seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama atau keyakinan lain pun dapat ditemukan kebaikan-kebaikan setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan atau nilai-nilai yang benar ada didalamnya.
Semua sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama punya dalil sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek bersama yang terdapat dalam agama-agama. Jika dikaitkan dengan Politik maka nilai pluralisme menjadi sangat sensitif, yang selalu muncul ditengah-tengahnya adalah Agama, Suku dan Ras apalagi didaerah yang mayoritas Muslim dipimpin seorang Non Muslim atau Kafir. 

Itu terbukti atas pengerahan massa oleh sejumlah tokoh muslim untuk menjegal A. Hok dari bursa kandidat Gubernur Jakarta dengan alasan bahwa ia seorang “ Kristen ” atau " Kafir " yang tidak layak memimpin Jakarta yang mayoritas Muslim adalah contoh kecil tapi mencolok dari " Politik Agama " yang mengesampingkan nilai-nilai Pluralisme di Negara yang ber Pancasila dan ber Bhineka Tunggal Ika ini.
Terpilihnya A Hok dan Djarod sebagai calon Gubernur DKI oleh PDIP dan partai pendukungnya Golkar, Nasdem dan Hanura yang lebih dulu mendukungnya, membuyarkan harapan dari koalisi kekeluargaan. Partai Islam PPP, PAN, PKB, PKS yang punya visi dan misi sama merasa diri Kokoh pada awalnya akhirnya terpecah dan memiliki Balon sendiri-sendiri. Dari penjelasan ini bahwa sebagian warga Bangsa ini masih menghargai perbedaan dan keberagaman baik Agama, Suku maupun Ras.
Sepertinya bahwa percaturan Pilgub dan Wagub DKI nuansanya seolah pertarungan antara Kafir dan Non Kafir, Pribumi dan Non Pribumi, mata sipit dan mata melong dan Jika fenomena “ politik agama ” sektarian ini tidak “ dikelola ” dengan baik, arif, dan bijak maka potensi kekerasan komunal-horisontal bisa terjadi, dan siap-siaplah spirit demokrasi yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun atas keberagaman bisa terkubur dikemudian hari. 
Karena didalamnya tumbuh kelompok-intoleran, maaf Muslim-muslim Hardliners yang tidak terakomodir kepentingannya, Kelompok-kelompok ini tidak segan-segan untuk memobilisasi massa dengan menggunakan sentimen-sentimen primordial Agama atau keyakinan dan Etnisitas demi mencapai kepentingan politik-ekonomi pragmatis. Inilah yang saya maksud dengan “ Politik Agama ”, yang mengesampingkan Pluralisme Agama yakni pemaksaan agama oleh sejumlah kelompok agama demi kepentingan politik praktis sektarian. Seperti dalam tulisan saya terdahulu bahwa Untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan pimpinan agama Ust, Kyai, Pendeta, Romo, bedande dllnya adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi pada materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai, tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi mau meneladani perbuatannya. Jika peradaban masyarakat masih menghendaki pluralisme maka sebagian besar masyarakat masih, menghargai keberagaman baik Agama, Suku maupun Ras. Bagaimana dan dimana kedudukan dan peran Tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi . . . . . . . . ????????!!! . . . Wallahu A'lam Bishawab, . . . . Damailah Bangsaku dan damailah Pemimpin-pemimpinku, . .  26/09/16

Prayit H, SH

Jumat, 16 Mei 2025

SEPERTI " KENTUT "

SEPERTI “ KENTUT “ . . . .

Oleh  : Prayit Hariyanto

Bapak Ir. Jokowi itu memang hebat dan luar biasa, terkadang saya sendiri menahan geli, . . Kenapa . . . ?? Karena beliau ini seorang yang santainya luar biasa hanya ada pada diri Beliau Bapak Ir. Jokowi mantan Presiden RI ke 7, dengan berbagai cara untuk menjatuhkannya dari mulai beliau menjabat selama 2 periode sampai purnanya pun masih ada yang mengusilinya. Banyak orang-orang yang merasa pintar dan cerdas menyerangnya, banyak Profesor, DR, LSM bahkan orang per-orang dll, . . . yang membully-nya tapi Bapak yang satu ini sepertinya sakti sekali, padahal Ijazahnya diragukan, keturunan China, PKI, Plonga- Plongo, Mulyono, si tukang mebel dan masih banyak lagi beliau dihina-hina. Namun beliau menanggapi dengan santainya bahkan sempat mengeluarkan kalimat yang menohok buat mereka-mereka itu “ Yang kurang dikomplitin saja “, bisa dibayangkan mana ada orang se-sabar beliau, seharusnya mereka-mereka malu dengan ke-pintaran-nya, ke-cerdasan-nya, ke-pakaran-nya, kok malah saya berpikir meragukan ke-doktoran-nya dan ke-Profesoran-nya. Seperti mereka-mereka meragukan Ijazah beliau . . .

Apalagi begitu Euforianya mereka-mereka saling, . . . saling sahut seperti beo sedang kontes ketika sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM, NGO dengan nama OCCRP yang bermarkas di Belanda menulis atau merilis bahwa mantan Presiden RI ke-7 Bapak Ir Jokowi sebagai finalis salah satu tokoh terkorup se-dunia. Ditambah lagi oleh masyarakat, biasa saya dan orang-orang menyebutnya RT 16 dan RT 24 begitu luar biasa senangnya bahkan mungkin, maaf saking senangnya mereka “ Selamatan “ dengan memotong Banteng sebagai ritualnya, saking semangat dan senangnya bahwa Bapak Ir. Jokowi akan segera ditangkap karena mega korupsi terbesar didunia, tak ketinggalan Abraham Samad mantan Ketua KPK pun turut senang dan menyuruh KPK segera menyelidikinya, Eeee ternyata . .  . ending-nya seperti “ KENTUT “ baunya hanya diseputaran mereka-mereka saja, ketika ditanyakan “ siapa yang kentut  .. . . . ????, “ . .  mereka saling pandang dan tidak ada yang mau mengaku. inilah dunia “ POLITIK “ . . . 

Sebuah pertanda sesungguhnya Ilmu Pengetahuan dapat membuat Se-seorang dihormati oleh banyak orang. Leluhur kita mewariskan pesan yang masih relevan sampai saat ini bahwa “ Orang berilmu itu besar walaupun masih muda, sedangkan orang Bodoh itu kecil walaupun usianya sudah tua “. Ternyata tidak berlaku didunia politik . . . . 
Yaaaaah . . .  . semoga yang merasa diri ber-ilmu, Pintar, Pandai dan Mahir segera sadar dengan bijak menjaga keilmuannya, dan sebaliknya bangkitlah untuk segera belajar bagi yang merasa diri Bodoh dan tertinggal agar mampu membaca “ Udang dibalik Batu “ dan membaca fikiran Orang-orang berilmu namun tidak “ BENAR “ sebagaimana narasi diatas, sejatinya mereka-mereka-lah yang tertinggal dan bodoh.  Salam logika dan salam sehat. Phsl 

Kamis, 10 April 2025

MASA ITU AKAN DATANG

MASA ITU AKAN DATANG

Oleh  : Prayit Hariyanto
(dari berbagai sumber)
Kita harus siap menghadapi hal buruk dalam kehidupan ini, dengan beberapa tahapan usia, setelah melewati masa-masa keemasan . . . . . 

Saat usia kita 58 th s/d 65 th tempat bekerja akan menyingkirkan kita, se-sukses apapun karir kita, sehebat apapun kekuasaan kita saat menjabat, kita harus kembali ke kehidupan semula yaitu menjadi masyarakat biasa, jangan berpola pada mode berpikir masih merasa memiliki kekuatan dan kehebatan dimasa lalu ketika masih bekerja, lepaskan semua mulailah dengan kehidupan baru agar bisa merasakan hidup dengan nyaman, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Saat usia 65 th s/d 75 th, giliran secara bertahap masyarakat akan menyingkirkan kita. Semakin sedikit teman atau kolega yang bergaul dengan kita bahkan hampir tidak ada orang yang mengenali kita ketika pergi ketempat kerja semula, jangan lagi mencoba mengatakan bahwa saya dulu ini dan itu, karena tempat kerja kita dulu sudah diisi oleh anak muda yang memang tidak mengenal kita.

Saat usia 75 th s/d 85 th, Keluarga-pun secara bertahap juga akan menyingkirkan kita, sekalipun kita memiliki banyak anak dan cucu, di hampir sepanjang waktu kita hanya bisa tinggal bersama istri/suami jika masih ada atau mungkin hidup sendirian, sekalipun anak-anak datang berkunjung sesekali karena pertalian hubungan kekeluargaan, jangan terlalu banyak berharap, mereka bisa jarang datang karena mereka juga memiliki kehidupan keluarga mereka sendiri.

Saat usia 85 th s/d 95 th, giliran Bumi ini yang akan melenyapkan kita, seseorang yang kita kenal sudah meninggalkan kita untuk selamanya. Jangan bersedih kehidupan seperti ini semua orang akan mengalaminya.

Jadi ingat sejak usia 58 th mari kita jaga hidup ini dengan baik, selagi masih kita dalam kondisi sehat, makan saja ketika kita ingin makan, minumlah ketika kita ingin minum, pergilah jalan-jalan kemana saja yang kita suka, lakukan apa saja yang ingin kita lakukan selagi baik, bertaman, berkebun, bernyanyi, . . . makin banyaklah berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya Tuhan YME, Allah Swt.

Untuk semua kita " Bersiaplah untuk masa yang pasti akan datang ini " karena semua kita akan menunggu giliran-giliran. Salam sehat dan salam Bahagia. Phsl 10/4/25