Lelaku AKHLAK
Oleh. : Prayit Hariyanto, SH
Akhir-akhir ini sesungguhnya kita punya masalah besar dalam berkomunikasi
sesama Muslim, hal kecil dan tidak usah terlalu muluk, dalam saling berpapasan saja
semakin jarang ditemukan sesama muslim yang saling bertegur sapa apalagi saling
menebar ucapan “ Assalamu'alaikum “, Hay, selamat pagi, dll. Lewat, yo lewat wae, bahkan terkadang
permisi-pun tidak.
Hanya sibuk mengurusi Amalan gampang mem-bid'ah-bid'ahkan
sesuatu jika berbicara agama, suka mengkafirkan sesamanya kalau tidak sepaham, ber-dalil paling sahih
bahkan banyak pula yang mengurusi Ramalan. sampai-sampai lupa merawat tradisi
kebaikan yang paling dan sangat sederhana yaitu “ Uluk Salam “ atau saling
memberi salam tadi. Padahal sesungguhnya sesuatu diatur sedemikian rupa olehNya
agar terlihat harmonis dan dinamis, nampak terlihat kerukunannya baik sesama
atau yang lainnya. mereka-mereka ini tidak mampu bersaing dengan lingkungan
dalam kehidupan sosialnya hanya nyaman
dengan kelompoknya.
Tidak dipungkiri, memang Amal yang kelak pertama kali
ditanyakan olehNya, dan Amal yang pertama ditanyakan itu adalah Sholat. Akan tetapi saya
meyakini bahwa ibarat membaca buku, Amal bukan Bab pertama buku hidup. Sebelum
Amal, yang lebih awal adalah Ilmu. Sebelum Ilmu, yang lebih awal lagi adalah
Adab atau tata krama. Dan sebelum adab atau Tata krama, yang lebih awal lagi
dan bahkan yang paling awal dan menjadi dasar bagi Adab, Ilmu dan Amal ialah “ AKHLAK “. Dan
inilah tugas utama kerasulan Nabi Muhammad SAW yaitu menyempurnakan Akhlak mulia.
Perilaku Adab, perbuatan Ilmu dan tindakan Amal semua
didasari lelaku Akhlak. Perkembangan Tekhnologi, komunikasi, digital saat ini ibarat
persenyawaan antara Ilmu dan Amal, dan layak diakui bahwa Tekhnologi,
komunikasi dan Digital memang maju, namun peradaban ternyata mengalami
kemunduran.
Jika kesederhanaan adalah pencapaian tertinggi umat Manusia,
kini terjadi Penyederhanaan. Padahal penyederhanaan berbeda jauh dari
Kesederhanaan. Kesederhanaan itu Alamiah, Natural, sementara Penyederhanaan itu
adalah Ilmiah, semakin kesini semakin Ilmiah. Sehingga tanpa dalil seolah-olah
manusia itu tidak bisa hidup dan bergerak. Padahal “ AKHLAK “ tidak membutuhkan
Dalil. Akhlak hanya membutuhkan keterlibatan jiwa dan Raga sepenuhnya, seutuh-utuhnya
dan seluruhnya dalam rangkaian berserah “ Diri “. Rendah diri di hadapanNya dan
rendah hati dihadapan sesama.
Fenomena saat ini bahwa banyak mereka-mereka ber-Ilmu agama tinggi,
mengikuti banyak kajian, sayang tidak diimbangi dengan Adab, Etika dan Estetika
dan bahkan rendah “ AKHLAK “ dalam Lisannya. Jauh dari rendah Diri dan rendah
Hati. Sebagaimana Rasulullah SAW contohkan. Cm.Phsl
Tidak ada komentar:
Posting Komentar