Jumat, 22 Mei 2020

TAUDIRI-KAH ANDA . . . . ???

Oleh: Prayit Hariyanto, SH.
(Kanit 2 Cyber Crime, Krimsus Polda NTB

TAUDIRI-KAH ANDA ??? . . . 

Kenapa harus “ Diam “ . . . !!!, karena Diam jauh lebih baik dari pada saling balas dalam sebuah perdebatan yang didasari atas kebencian bukan logika atau profesionalisme, bukan juga ber-arti kalah, melihatnya bijak dikarenakan gemuruh hati bisa dan mampu dikendalikan dengan “ IMAN “ nya.

Berusaha untuk tetap tenang, cukup diam sambil mengamati-nya dan sambil  ber-DO’A agar situasi dan kondisi bisa segera cepat berubah, konsekuensinya jika tidak maka DIAM dengan keyakinan kepadaNya maka DIA akan tunjukkan sesuatu diluar nalar kita.
Biasa disebutnya “ Tidak Taudiri  “ orang seperti ini jika diperhatikan selalu berada diruang lingkup keberadaan kita, bisa di Komunitas, Perkumpulan, Group dan kebanyakan dalam lingkup Instansi atau Institusi baik swasta maupun pemerintah. Biasanya menunjukkan sikap ketidak sukaan, tidak menyukai keberadaan kita dilingkungannya karena merasa seolah ada pesaing padahal sesungguhnya tidak sepadan levelitasnya, menghadapi orang seperti ini membutuhkan energi besar hingga level ke- “ SABAR “-an.

Orang seperti ini terlalu pintar menilai orang lain, sayang dia terlalu bodoh menilai dirinya sendiri. Jika ikut didalamnya maka kita akan ikut miskin, miskin Ilmu, miskin Pengetahuan, miskin Harta bahkan miskin Etika, estetika  dan Moral.
Cukup diam dan tersenyum, walau Comberan tumpah disetiap sudut ruangan dalam mengatasinya, bukan berarti tidak bisa marah, murka, akan tetapi energi Negative itu lebih baik dicurahkan kepadaNya tanpa harus merugikannya, boleh percaya dan boleh tidak bahwa orang yang tetap “ diam “ saat segala Fitnah dan kezaliman menyelimutinya, bukan berarti tak berdaya, tetapi karena Dia tahu sebaik-baik ketenangan dan kenyamanan dalam hidupnya adalah “ SURGA “ bukan Dunia. 
Yaaaa, . . . . tetap diam sembari membersihkan tumpahan coberan agar tidak semakin meluber kemana-mana.

Kesimpulannya bahwa Orang yang “ diam “ meskipun dizalimi, bukan orang yang lemah melainkan orang yang kuat. Kuat hatinya untuk mengalah, Kuat fikirannya untuk mampu memutuskan. Dan kuat keyakinannya untuk tetap percaya akan keadilanNya. Cukup kita yang Taudiri, . . . . .  “ Taudiri “ kepada diri sendiri dan kepadaNya bukan kepadanya agar ke-berkah-an selalu bersama kita, . . . . Aamiin.

Semoga bermanfaat sebagai Tiiip,   . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar