Minggu, 15 Desember 2019

MANYAR

" Manyar " itu migrasi meninggalkan kebisingan sumbang isi semesta, rajutan-rajutan cantik dan indah ia tinggalkan sebagai kenangan ber-sejarah jika suatu waktu pernah ber-diam diri bersama mereka-mereka yang berisik mengganggu ketentramanya. 
Ulet, terampil dan pekerja keras bersama komunitasnya untuk ber-holopis kuntul baris  membangun kembali rajutan nan cantik dan Indah yang ia tinggalkan sebagai kenangan sejarah. 
" Manyar "  itu memilih ketinggian meng-hindar-kan kebisingan tak ber-adab, ber-estetika dan ber-etika mengganggu karyanya. Pengalaman telah me-ngajarkan-nya.

" Ulin " adalah salah satu pohon  pijakan kokoh yang Ia pilih sebagai tempat kembali mengukir sejarah dengan merajut Anyaman nan-cantik dan Indah untuk berdiam dan berkicau merdu, meng-hipnotis penikmatnya dengan nyaman. 
Pelan dan pasti kini kebisingan itu mulai menjalar kemana-mana mengikuti bak akar " Tuba " terluka yang airnya mengalir sebagai polusi, meracuni otak-otak sehat atas Eusideroxylon Zwageri nama lain pohon " Ulin " pilihan  Manyar untuk berdiam tentram.

Mudahan benih pohon menjalar itu tak terbawa serta  migrasinya " Manyar ", demi menjaga Ulin tetap kokoh dan sehat tidak terganggu tumbuhnya Tuba disekitarnya, biarlah cukup dari ke-jauh-an  kebisingan itu sayup-sayup terdengar, . . . . 

(Phsl 28/08/19)

#edisiagustusan
#damailahbgsdannegeriku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar