Minggu, 22 Desember 2019

POLITIK <> AGAMA

POLITIK <> AGAMA

Politik lebih menekankan pada aturan main dalam perebutan singgasana setelahnya bagi-bagi “ ANG PAO “ jabatan dalam konteks kehidupan ber – Negara bagi yang memenangkan kontestasi, lumrah dan hal yang sudah biasa usai pesta Demokrasi, lebih suka saya menyebutnya “ Babu “ als Balas Budi. 
Sementara Agama Ajarannya lebih menekankan pada ke-Iman-an, ritual tentang ke-Ibadah-an, dan yang paling utama adalah meng-ajarkan “ MORALITAS “. Apapun Keyakinannya mau Islam, Kristen, Hindhu, Budha, Kong hu Chu dlnya. 

Ketika Agama masuk kedalam ranah politik maka kontestasi akan terlihat nampak sehat, indah dan terasa sejuk tidak hiruk pikuk menebar Hoak, kebencian, pembunuhan karakter karena para politikusnya paham tentang “ MORALITAS “ yang telah agama ajarkan.

Berbeda jika para politikus-nya memanfaatkan Agama sebagai sarana politiknya untuk mencapai tujuan maka Agama tetap Agama yang selalu dalam koridornya, sejuk tanpa perubahan, hanya umatnya yang setiap saat termobilisasi karena sifat sensitivenya mampu dimanfaatkan para Politik-kus untuk menjadi komoditas yang laris manis untuk diperdagangkan demi kekuasaan. 

Memang sentimen agama sangat efektif untuk membangun solidaritas massa sesaat yang bersifat reaktif, bahkan boleh dikatakan radikal, namun terkadang sangat ironis begitu masive pergerakannya ada tokoh penggeraknya tersandung kasus “ HOAX “, tertangkap karena korupsi, Chat mesum dll. 

Sejurus pembelaan sudah pasti, dalil-dalil pembenaran pun muncul untuk mempengaruhi opini Publik, bahkan ayat-pun di publis, hingga sesama Kyai-pun berbeda dalil, sesama Ustadz saling mencerca, rupanya mereka ingin menjadi terdepan walau sumber ilmu yang digalinya sama, Alqur’an dan Hadist, justru yang lebih menarik " New pendatang " Ustadz-ustadz Sosmed baru membaca sampul mengajinya sudah melebihi Kyai, Tuan Guru, Ustadz sesungguhnya, referensinya cukup berguru ke mbah “ Goegle “ insya allah semua problem teratasi. Menurutnya, . . . .

Ini yang dinamakan ambisi besar, kompetensi kecil. Lebih cilakanya, citra dan martabat agama jadi ternoda karena hanya dijadikan alat atau batu loncatan untuk meraih kekuasaan semata. 

Walau tidak dapat dipungkiri dalam dunia politik sesungguhnya tak ada yang terbebaskan dari pengaruh agama. Hanya saja formulasi peran dan keterlibatan agama dalam politik yang berbeda. Saat-saat ini keterlibatan Politik-kus yang memanfaatkan Agama lebih besar dari pada Agama sebagai sang Maha Guru “ Moralitas “ nya, dampak-nya-pun sangat terasa. “ Gaduh “, Al maidah Gaduh, Bendera HTI Gaduh.

“ Gaduh ko’ sedikit-sedikit “ kata Cak Lontong, . . .

Inilah jika Agama dibawa ke ranah politik, seharusnya Agama cukup sebagai keyakinan hidup dan pedoman Moral, baik dalam ranah individu maupun kehidupan sosial. Tidak berarti agama tidak memiliki pengaruh dalam proses politik. Hubungan agama dan politik itu senantiasa menyatu, sekalipun hal ini juga menimbulkan problem politik sangat serius yang belum selesai hingga kini.

Pendek kata, “ Politik-kus yang hebat punya Moralitas sebagaimana Agama Ajarkan bukan memanfaatkan areal  sensitive Agama untuk meraih Kekuasaan “ 

#damaiituindah
#nkrittpdihati

PhSl medio (04/11/18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar