CINTA DAN KEKUATAN
CINTA selayaknya kekuatan, bukan kelemahan, dan Cinta seharusnya tahu cara untuk BAHAGIA. Jika kebahagiaan adalah tujuan utama, maka kita rela menempuh penderitaan demi meraihnya. Namun kebahagiaan bukan hasil. Ia proses untuk menjadi.
Kebahagiaan akan terus-menerus menjadi wujud baru seiring pertumbuhan spiritual manusia dalam memaknainya. Jika telah menyentuh rasa cukup, maka kebahagiaan telah mewujud kesederhanaan. Pada derajat inilah kita bisa menikmati sikap hidup yang dinamakan tawadhu.
Cukup tidak selalu berarti berkecukupan. Dalam kata berkecukupan terkandung arti hidup dengan kekayaan, bahkan dapat dimaknai sebagai berkelebihan. Jika ini yang dijadikan ukuran, manusia miskin harta tak dapat digolongkan didalamnya. Padahal hidup berkecukupan dan atau berkelebihan acap kali diselubungi oleh rasa kurang, yang menjauhkan kita dari rasa cukup.
Jika memahami kebahagiaan sebagai proses menjadi, maka proses itu dimulai dari sekarang, disini dan oleh diri kita sendiri. Sangat jelas menunjukkan betapa kebahagiaan dapat diperjuangkan sejak sekarang, dilingkungan inti yang didalamnya hidup kelompok terkecil bernama keluarga yang saling mencintai, melindungi dan merawat, yang tidak kalah penting saling men " DO'A " kan.
Minimal, " TERSENYUM ", salah satu yang nampak dari kebahagiaan itu sendiri. Semoga bermanfaat (KECM)
Prayit H. Sl 4/04/18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar