Senin, 03 Februari 2020

SISI LAIN

SISI LAIN . . . . . 

Polisi dengan tugasnya sebagai Penegak Hukum dan penjaga Kamtibmas, bagi sebagian orang dipandang sebagai pahlawan karena kedua beban tersebut harus diembannya. Namun, tak sedikit juga yang menganggap se­baliknya.
Dua hal ini, merupakan performa yang memberi harapan dan yang menurunkan citra, selalu mewarnai perjalanan tugas Polisi. Diskresi yang dimiliki dalam penegakan hukum menyediakan banyak peluang bagi polisi untuk menjadi pahlawan dengan bertindak progresif sebagai penjaga keadilan. Namun, di sisi lain kewenangan tersebut juga dapat menjerumuskan polisi ke lembah kenistaan bila menyelewengkannya. Profesi kepolisian memang sarat dengan ironi dan kontradiksi.

Di antara dualisme inilah polisi harus meniti tugas dan tanggung jawabnya sebagai Abdi negara. Hanya satu yaitu sakralitas pengabdian yang membuat seorang polisi sanggup bertahan dengan teguh menghadapi berbagai tantangan, dan inilah yang layak membuat polisi layak disebut sebagai Pahlawan. Karena diskresi yang melekat inilah kerja polisi menjadi tak mengenal batas, 24 jam sehari, baik siang maupun malam, dinas maupun tidak. Lingkungan kerja polisi juga bukanlah ruang ber AC yang nyaman seperti penegak hukum lain­nya. Sedari pagi berdiri hingga terik matahari yang penuh dengan debu jalanan agar pegawai, pedagang dan anak sekolah lancar tidak mengalami hambatan dan nyaman berlalu lintas,  sisi lain polisi harus berhadapan dengan penjahat yang siap menghunus pedang dan mengangkat senjata. Sialnya polisi masih dituntut untuk menghormati hak asasi mereka dengan resiko siap untuk dijadikan bulan-bulanan.

Dilema selalu mewarnai tugas polisi. Polisi bukan seperti seorang Profesor, Doktor namun Polisi diharuskan seperti seorang Profesor dan Doktor jika bertindak seketika dilapangan tanpa terlebih dahulu membaca buku, mencari referensi dan tanpa ruang untuk berpikir. Jika ketika tindakannya benar, tak akan mendapat aplaus. Jika tindakan yang ditempuh keliru, bisa kehilangan nyawa dan masih disalahkan pula, masyarakat, media turut menghujatnya seolah mereka paling hebat dan benar. Ibarat buah simalakama itulah tugas Polisi.

Dengan pertaruhan-pertaruhan semacam ini tak adil rasanya bila orang hanya pandai mencerca kinerja Polisi, tanpa pernah memahami berbagai kendala yang dihadapi profesi Polisi. Publik hanya menilai apa yang tampak di permukaan dan selalu berprasangka. Polisi juga tak bisa menghindar dari pandangan sinis masyarakat.

Konsekuensinya, prestasi polisi akan dianggap sebagai sebuah kewajaran, sedangkan jika mengalami kegagalan akan melahirkan deraan yang datang bertubi-tubi. Itulah sebabnya lahir pameo yang menyebut polisi sebagai profesi yang jasa-jasanya tak terhimpun dan dosa-dosanya yang tak berampun. Sebagai Abdi Negara dengan pengabdian yang tak mengenal batas, deraan ini diterima sebagai kritik yang dilandasi kecintaan masyarakat ter­hadap polisi. Maaf itu hanya untuk membesarkan hati, . . . . 
Polisi adalah manusia biasa dengan tuntutan luar biasa. Itulah sisi lain seorang Pengabdi, . . . . 

Prayit H.Sl medio 11/10/16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar