Senin, 03 Februari 2020

YANG TERSISA DARI SEBUAH PESTA DEMOKRASI

YANG TERSISA DARI SEBUAH PESTA DEMOKRASI

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidupnya. Demokrasi juga mengizinkan setiap warga negara yang mempunyai hak pilih untuk berpartisipasi baik secara langsung atau melalui perwakilan untuk ikut merumuskan, mengembangkan, melegalkan akan dibawa kemana Bangsa ini, Demokrasi mencakup beberapa aspek kehidupan Sosial, Ekonomi, Budaya dan Hukum yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.
Keputusan politik yang menyangkut kehidupan rakyat baik secara ekonomi, Sosial, Budaya dan Hukum tersebut ditentukan oleh rakyat sekarang ini. Konteksnya bahwa  rakyat memilih pemimpin (presiden, gubernur, bupati) dan DPR melalui pemilu yang bebas dan fair alias (jurdil). Apakah sudah terlaksana. . . . . ??? Kita sebagai pelaku Demokrasi sekaligus penonton yang bisa melihat dan merasakannya. 

Maaf, Bangsa dan Negara ini sudah letih dan lelah menghadapi guncangan bertubi-tubi dari beberapa aksi mulai dari 411, 212, Pawai Kebhineka Tunggal Ika an dan 112 akibat dari memanasnya peta konstestasi Politik yang semakin meningkat hingga menjurus kearah " Makar " beberapa sudah menjadi korban dengan penetapan sebagai tersangka dan bahkan ada diantara mereka yang sudah menginap ditempat yang tidak diinginkan. Media Sosial Fb, Twitter, Instagram, media cetak dan media Elektronik dijadikan sarana Perang Opini dengan cuitan meng IBA dengan harapan, . . . ., ditambah peran awak media yang mempertajam ulasan para pakar, tokoh, pengamat, LSM sepertinya tanpa beban menambah panasnya situasi. 

Perseteruan demi perseteruan sudah mulai nampak tanpa filter dan terlihat Vulgar, saling serang tanpa memperhatikan Etika dan estetika sebagai ciri khas Bangsa ini yang menjunjung tinggi Norma Agama, Norma Susila, Norma kesopanan, Norma Adat dan Norma Hukum. Ditandai hilangnya rasa hormat terhadap orang tua, demikian sebaliknya tidak adanya saling menghargai. Share, membagikan Tauatan, memposting  dan meng Upload tanpa pernah dibaca isinya menjadi hal biasa apalagi bagi pemula yang baru mengenal Media Sosial yang penting bisa menyebarkan tidak berfikir akibatnya. Ini semua adalah gambaran dari sebuah Pesta Demokrasi Bangsa ini.

Pada akhirnya yang tersisa dari Pesta Demokrasi tidak lain adalah Kalah dan menang, yang menang tentunya akan menjalankan amanah yang diberikan oleh rakyat atau konstituenya untuk lima tahun kedepan, akan dibawa kemana Bangsa dan Daerah yang dipimpinnya. Memang Berat, . . . !!!!!!, tapi tidak sedikit yang menginginkannya.
Sementara yang kalah, seharusnya Legowo, . . . !!!, itulah resiko dari sebuah Demokrasi, anggaplah bahwa membangun sebuah Bangsa atau Daerah tidak harus memenangkan Pesta Demokrasi. katanya, . . . . !! Begitu kalah Masih punya pilihan apakah bergabung dengan Pemerintah atau mengambil Oposisi sebagai Penyeimbang adalah syah-syah saja karena itu juga dibenarkan dalam berdemokrasi. 

Bagaimana dengan Pemilukada DKI Jakarta, . . . . . ???

Usai pemungutan suara pada Pesta Demokrasi sudah nampak dan terlihat sesaat setelah penghitungan suara selesai, siapa yang Unggul diantara tiga Pasangan Calon yang ada ( AHY-SILVIE, A HOK-DJAROT dan ANIS-SANDI ) dari kemajuan teknologi dan berbagai Lembaga Survei yang ada walau KPU belum mengumumkan hasilnya. Gesekan demi gesekan diantara pasangan calon memang terjadi pada masa tahapan Pilkada masih membekas dan dalam tahap yang wajar dalam berdemokrasi, walau harus mengorbankan beberapa pasukan Ksatria sejati Demokrasi. Memang harus ada yang dikorbankan.  
Namun yang dibutuhkan saat ini adalah Berbagai kekuatan politik pendukung baik Kalah - Menang harus saling mengontrol untuk meminimalkan kesalahan dan meluruskan agenda demokrasi untuk menghindari " KONFLIKTUAL " yang sudah ada sebelumnya. Biarlah dinamika transisi akan hilang bersama berjalannya waktu. Harapannya. . . . Amiin.

medio (16/02/17) Prayit H, SH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar