Senin, 03 Februari 2020

SAKIT KEPALA

SAKIT KEPALA

Pemahaman orang tidak seragam. Kapasitas otak manusia juga berbeda-beda. Jangan paksakan otak manusia yang " Krowak " bisa berpikir seperti Anda yang otaknya " Jangkep ".
Saya kepingkal-pingkal saat " AS Laksana " menulis dengan SARKAS ihwal saudara-saudara kita yang semangatnya tak pernah padam dalam ber Islam. Saya kutip dialog Ibu dan Anak disebuah pusat pembelanjaan sebagaimana yang ditulis " AS Laksana " itu

+  Kasihan sekali orang itu, Mama, . .
-  Yang mana  ?
+  Itu yang sedang teriak-teriak, 
-  Tidak ada yang perlu dikasihani dari orang itu, 
+  Coba Mama lihat, kepalanya dibalut perban tebal sekali
-  Ooh, dia memang sakit kepala tiap hari, mungkin sudah retak.

Demikianlah wabah itu menjalar sedemikian rupa. Kebodohan sampai kapanpun hanya akan membawa pada ketidak tahuan. *prie GS*

Kebodohan berujung ketidaktahuan, Ketidaktahuan berujung pada salahnya pemahaman. Salahnya pemahaman berujung pada salahnya tindakan. Salahnya tindakan berujung pada sekian " akibat " yang terus berlipat-lipat. 

Lalu dimana letak persoalannya . . . ??, tentu jawabnya sangat tegas ; ada di " Batok " kepala kita. Tindakan yang Ruwet, percayalah, terlahir dari cara berpikir yang ruwet. Bagaimana bisa berpikir bebas dan benar jika Kepalamu kau belenggu dengan Perban yang tebalnya mengalahkan Ban vespa, . . . ??

Dari sanalah pekikan " Takbir " yang tak tepat waktu itu bermula dan mewabah. Dari orang-orang yang sakit " Kepala ", .. . 

Sepenggal kutipan ; 
Migrasi Kemanusiaan dan asal muasal sakit Kepala (FA)

Prayit H. Sl 15/03/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar