SAKIT KEPALA
Pemahaman orang tidak seragam. Kapasitas otak manusia juga berbeda-beda. Jangan paksakan otak manusia yang " Krowak " bisa berpikir seperti Anda yang otaknya " Jangkep ".
Saya kepingkal-pingkal saat " AS Laksana " menulis dengan SARKAS ihwal saudara-saudara kita yang semangatnya tak pernah padam dalam ber Islam. Saya kutip dialog Ibu dan Anak disebuah pusat pembelanjaan sebagaimana yang ditulis " AS Laksana " itu
+ Kasihan sekali orang itu, Mama, . .
- Yang mana ?
+ Itu yang sedang teriak-teriak,
- Tidak ada yang perlu dikasihani dari orang itu,
+ Coba Mama lihat, kepalanya dibalut perban tebal sekali
- Ooh, dia memang sakit kepala tiap hari, mungkin sudah retak.
Demikianlah wabah itu menjalar sedemikian rupa. Kebodohan sampai kapanpun hanya akan membawa pada ketidak tahuan. *prie GS*
Kebodohan berujung ketidaktahuan, Ketidaktahuan berujung pada salahnya pemahaman. Salahnya pemahaman berujung pada salahnya tindakan. Salahnya tindakan berujung pada sekian " akibat " yang terus berlipat-lipat.
Lalu dimana letak persoalannya . . . ??, tentu jawabnya sangat tegas ; ada di " Batok " kepala kita. Tindakan yang Ruwet, percayalah, terlahir dari cara berpikir yang ruwet. Bagaimana bisa berpikir bebas dan benar jika Kepalamu kau belenggu dengan Perban yang tebalnya mengalahkan Ban vespa, . . . ??
Dari sanalah pekikan " Takbir " yang tak tepat waktu itu bermula dan mewabah. Dari orang-orang yang sakit " Kepala ", .. .
Sepenggal kutipan ;
Migrasi Kemanusiaan dan asal muasal sakit Kepala (FA)
Prayit H. Sl 15/03/18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar