Senin, 03 Februari 2020

SEKEDAR TAHU

SEKEDAR TAHU, . . . !!!!,  BERFIKIR DAN MENGHINDARKANNYA

Semua jenis Narkoba tentulah sangat berbahaya. Akan tetapi kita perlu mengetahui lebih dalam tentang Narkoba jenis Shabu untuk dapat memahami mengapa begitu berbahaya dan menebar " TEROR " bagi Kita maupun anggota keluarga Kita. Narkoba lain seperti Heroin atau Kokain memiliki musim panen. Akan tetapi Shabu merupakan Narkoba Sintetis (NS) yang dapat dibuat kapan saja dari bahan-bahan yang keseharian ada disekitar kita. Bahaya maut Shabu sangat dekat dengan kita, dan atau orang-orang yang kita kasihi.
Shabu hanyalah sebutan yang popular di Indonesia untuk zat Adiktif yang disebut Methamphetamine (meth). Bentuknya seperti butiran Crystal putih seperti butiran gula yang lebih besar sedikit sehingga ada yang menyebutnya " Crystal meth ". Selain berbentuk butiran crystal, Meth juga tersedia dalam bentuk tablet, biasanya dicampur bahan lain seperti Kafein. Sebutan lain dari Methamphetamine (Meth) adalah : 
- (Jepang, Indonesia) : Tina, Glass, Ice, Crystal, Crank, Chalk, Speed, Shabu, 
- (Thailand) : Nazi Dope, Annie’s Dope, Annie, Poor Man’s Cocaine, Ya ba , dll. 

Efek-efek yang dirasakan selama mengkonsumsi Shabu hanyalah tipuan sementara. Sekali menggunakan Shabu, sesungguhnya pemakainya telah melakukan perjanjian jangka panjang dengan iblis. Dalam pemakaian Shabu selanjutnya, efeknya akan menghantam balik. Obat ini menyerang otak, melemahkan tubuh dan pikiran, membuat pecandunya menderita Paranoid, Agresif berlebihan bahkan gila. Sekali digunakan, kebutuhan dosisnya akan semakin tinggi atau meningkat.

Dalam otak manusia terdapat pusat kesenangan yang disebut Nucleus Accumbent. Di titik ini terjadi pelepasan Dopamine, yaitu bahan kimia alami yg menimbulkan rasa senang. Makin banyak dopamine dilepaskan, makin senang kita rasakan. Kesenangan sesungguhnya merupakan ’hadiah’ yang diberikan otak kepada manusia. Salah satu puncak kesenangan normal adalah  seks dan makan. Dalam kedua aktivitas itu, Dopamine dilepaskan otak dan menimbulkan rasa senang dan nyaman.

Inilah yang sebetulnya terjadi: saat mengkonsumsi shabu, ia langsung menuju pusat kesenangan, nucleus accumbent. Makanya si pemakai langsung teler dalam keadaan santai dan nyaman. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa 150 unit dopamine dilepaskan otak pada saat makan atau melakukan aktivitas seks. Akan tetapi shabu menipu otak agar melepaskan lebih banyak dopamine. Sekali pemakaian, Shabu bisa memicu pelepasan 1200 unit dopamine. Shabu memaksa otak bekerja keras 3,5 kali lebih keras dibandingkan efek kokain, atau 6 kali lebih keras dari aktivitas normal manusia.

Meth atau Shabu pun mulai bekerja merusak otak. Otak yang dipaksa melepaskan dopamine berlebihan, pun melakukan perlawanan secara alami. Otak mulai mematikan sel saraf yg terlalu aktif melepaskan dopamine. Akibatnya, pada titik tertentu pemakai shabu mulai merasakan perubahan dari tingginya dopamine (kesenangan) menjadi semakin sedikit dopamine karena sel-sel saraf otak yg mulai mati.

Akibatnya para pecandu mulai kehilangan rasa melayang itu tetapi tetap berusaha mengejar rasa senang yang sempat mereka nikmati dalam kemabukan. Mereka akan terus berusaha mencapai titik itu dengan pemakaian shabu yang tentu dosisnya semakin ditingkatkan, sampai berhari-hari lamanya sampai mendapatkan sengatan dopamine yang makin lama makin jarang. Lama kelamaan pemakaian shabu dengan dosis yang semakin meninggi membuat otak tidak dapat bekerja, dan meth/shabu mulai mengambil alih pikiran pemakainya.

Di titik ini pemakai shabu mulai berhalusinasi. Melihat hal-hal yg tidak nyata, mendengar suara-suara dan sebagainya. Salah satu halusinasi misalnya merasa tubuhnya dikerubuti serangga sehingga si pemakai shabu mulai menggaruk tak henti. Halusinasi berlanjut, ia mulai menggaruk dengan benda kasar, bahkan menusuk-nusuk tubuhnya untuk mengejar ’serangga’ yang dirasakannya masuk ke dalam lukanya. Tidak heran tubuh pecandu meth biasanya penuh luka bekas cakaran atau tusukan.

Selama mabuk shabu, pemakainya jarang makan dan minum, pasokan air liur di mulut menjadi berkurang. Akibatnya gigi dan gusi menjadi keropos tak terkira. Bencana lainnya adalah kerusakan organ-organ vital seperti ginjal, paru-paru, lambung, hati dan otak. …serta tentu saja tampilan fisik yang menyedihkan (Psikologis dan atau Neorologis)

Serangan meth ke otak membuat si pemakai shabu terancam kehilangan usianya, yaitu selama ia memakai dan tergantung pada obat iblis tersebut. Usia bertambah, tetapi otaknya melemah sehingga perkembangan pikirannya terhenti. Dalam hitungan bulan, otak mulai melemah dan tampilan wajah semakin kuyu dan tua. 

Tampilan pemakai Narkoba menggambarkan hebatnya kerusakan organ-organ vital tubuh bagi penggunanya. Menyadari ancaman Narkoba terhadap jiwa-jiwa penggunanya. Jika tidak ditangani segera, sesungguhnya pengguna Narkoba telah mati di selama hidupnya.
Mereka memerlukan bantuan kita yang mau peduli terhadapnya. Tetapi yang tidak kalah penting adalah menyadari bahwa bahaya Narkoba begitu dekat dengan Anda dan Kita semua.

Demand Reduction or Supply Reduction Apakah Sudah Selesai.. . . . ???

Narkoba dalam berbagai wujudnya merupakan salah satu bentuk nyata iblis dalam dunia. Dia menawarkan kesenangan sesaat, selanjutnya adalah penderitaan. Wajah-wajah yang kami temui setiap usai upaya penangkapan  adalah wajah suram, tanpa masa depan. Mereka, para pemakai Shabu telah membuang waktu yang begitu indah dalam hidup dan menyerahkan hidup kepada perangkap Narkoba. Belum lagi efek sosial lain yang ditimbulkan seperti tindak kekerasan, perampokan, penyebaran penyakit hepatitis dan AIDS, serta berbagai efek negatif lainnya. 

A message, 

Jangan sekali-sekali pernah mengenal benda ini, karena pemakainya tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Kesabaran dan perjuangan yang tiada henti, berpacu untuk mengalahkan godaan iblis bernama Meth atau Shabu, …whatever, . . .

Semoga bermanfaat.

Prayit H,Sl medio 9/04/2017,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar