Senin, 03 Februari 2020

MAHAR

MAHAR POLITIK 

Tokoh Nasional yang menjadi Pemimpin Bangsa ini, kebanyakan tidak dilahirkan dari Partai Politik, sebaliknya partai politik besar karena pengaruhnya, magicnya, kekuatannya. Ketika Orde Lama PNI besar karena Bpk Ir. Soekarno, Golkar besar karena Bpk Soeharto saat Orde Baru berkuasa, demikian juga ketika Orde Reformasi Demokrat besar karena Bpk. SBY, Gerindra karena Bpk. Prabowo Subianto, PKB besar karena Bpk KH Abdurrahman Wahid, PAN karena Bpk Amien Rais, setelah tumbangnya PDI Suryadi, Ibu Megawati Soekarno Putri merevolusi PDI menjadi PDI Perjuangan dan PDIP pun besar karenanya demikian partai-partai yang lainnya walau pada akhirnya satu persatu berguguran karena ketokohannya masih diragukan.
Kehebatannya Pak Prof. DR Yusril Ihza Mahendra, KH Zaenudin MZ, Sri Bintang Pamungkas, Budiman Sujatmiko, Rhoma Irama, masih belum bisa berkiprah lebih jauh.

Kini partai Politik mulai goyah kehilangan keseimbangannya karena nyanyian merdunya " Bpk La Nyala Mataliti " dan Brigjend Pur Siswandi yang gagal karena Mahar Politik. Benar atau tidak kini menjadi Polemik. 

Memang tidak mudah mencetak pemimpin Bangsa saat ini, walau  ketokohannya sudah tidak diragukan lagi, kalau tidak ada Mahar, . . . . 

Sebenarnya pengertian " Mahar " atau mas kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan pada saat pernikahan, 
Kini " Mahar " dijadikan sebagai alat politik untuk melegitimasi calon pemimpin Bangsa, tidak heran kalau sekarang jalur " Independen " sebagai pilihannya dari pada jalur yang mengukur kekuatan Mahar.
Yaaah, . . .   apa jadinya jika pemimpin Bangsa ini dicetak dari " Mahar " Politik, . . . . ???? Wallahu'alam bisowab.

Pratit H.Sl 18/01/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar